Epidemiolog LDII: Kabut Asap Karhutla Ancam Kesehatan, dari Paru hingga Jantung

Jakarta (20/10). Paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam jangka panjang dapat mengganggu kesehatan, mulai dari memicu penyakit pernapasan hingga meningkatkan risiko gangguan jantung dan pembuluh darah. Kelompok rentan, seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit kronis, perlu mendapat perlindungan ekstra.
Epidemiolog sekaligus Ketua DPP LDII Dicky Budiman menjelaskan, asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, dan sejumlah gas iritan yang dapat membahayakan tubuh ketika terhirup.
“Asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, serta sejumlah gas iritan yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu peradangan,” ujarnya.
Menurut Dicky, dampak paparan asap dapat berupa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk berkepanjangan, bronkitis, kekambuhan asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga penurunan fungsi paru.
Dampaknya tidak terbatas pada sistem pernapasan. Paparan partikel halus juga dapat memicu peradangan yang berpengaruh terhadap sistem kardiovaskular, sehingga meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan gangguan irama jantung. Selain itu, asap dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, dan tenggorokan, termasuk konjungtivitis.
Anak-anak dan Ibu Hamil Lebih Rentan
Dicky menegaskan, kelompok rentan perlu mendapat perhatian khusus selama periode kabut asap. Pada ibu hamil, paparan polusi udara dikaitkan dengan peningkatan risiko berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur. Sementara itu, paparan berulang pada anak dapat mengganggu perkembangan paru-paru dan meningkatkan risiko masalah pernapasan di kemudian hari.
“Anak jauh lebih rentan karena frekuensi napasnya lebih cepat sehingga menghirup lebih banyak udara per kilogram berat badannya. Saluran napasnya juga lebih sempit dan parunya masih berkembang,” jelasnya.
Pada bayi dan anak-anak, paparan asap dapat memicu batuk berkepanjangan, infeksi saluran pernapasan berulang, infeksi telinga, dan sesak napas. Pada kondisi berat, gangguan pernapasan juga dapat menyebabkan kekurangan oksigen.
Karena itu, orang tua perlu memantau kondisi anak selama kabut asap berlangsung, terutama jika anak memiliki riwayat asma atau gangguan pernapasan lainnya.
Dicky mengingatkan masyarakat agar segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas, napas cepat atau berbunyi, kesulitan bernapas saat beristirahat, nyeri atau tekanan di dada, jantung berdebar tidak wajar, pusing hebat, hingga pingsan.
“Batuk terus-menerus yang semakin berat, batuk darah, demam tinggi, bibir atau ujung jari kebiruan juga merupakan tanda bahaya,” katanya.
Bagi penderita asma atau PPOK, pertolongan medis diperlukan apabila obat yang biasa digunakan tidak lagi membantu. Sementara pada anak, tanda bahaya meliputi tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas, kesulitan minum, tubuh lemas, atau tidur lebih banyak dari biasanya dan sulit dibangunkan.
Batasi Aktivitas di Luar Ruangan
Untuk mengurangi risiko kesehatan, Dicky menyarankan masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk, terutama olahraga berat. Jika memungkinkan, warga sebaiknya mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan resmi dari pemerintah sebelum beraktivitas.
Masyarakat juga dianjurkan menutup pintu, jendela, dan celah ventilasi ketika asap sedang pekat. Apabila harus keluar rumah, masker respirator seperti N95 yang terpasang dengan baik dapat membantu mengurangi paparan partikel halus.
“Jangan membakar sampah, jangan merokok, dan jangan memasak dengan menghasilkan asap di dalam ruangan,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat perlu menjaga asupan cairan dan gizi. Jika tersedia, ruang evakuasi atau tempat berlindung dengan kualitas udara lebih baik dapat dimanfaatkan ketika kondisi di rumah tidak lagi aman atau paparan asap sulit dikendalikan.
Ciptakan Ruang yang Lebih Bersih di Rumah
Bagi keluarga yang memiliki bayi dan anak-anak, Dicky menyarankan agar satu ruangan di rumah, terutama kamar tidur anak, dijadikan area dengan paparan asap seminimal mungkin.
Jika tersedia, alat penjernih udara dengan penyaring partikel yang sesuai dapat digunakan. Celah di bawah pintu juga dapat ditutup untuk mengurangi masuknya asap, sementara pintu dan jendela sebaiknya tidak terlalu sering dibuka ketika kualitas udara di luar memburuk.
“Bersihkan lantai dan permukaan ruangan dengan kain basah dan jangan menyalakan sumber asap di dalam rumah. Anak-anak dan bayi sebaiknya tidak dibawa keluar ketika asap tebal,” katanya.
Dicky menambahkan, keluarga perlu mempertimbangkan untuk mengungsi ke tempat dengan kualitas udara lebih baik apabila paparan asap di rumah tidak dapat dikendalikan atau kondisi kesehatan anggota keluarga memburuk.
Khusus bagi bayi, orang tua perlu memastikan kebutuhan ASI, cairan, gizi, dan istirahat tetap terpenuhi. Pemantauan kondisi kesehatan secara berkala juga penting agar tanda bahaya dapat dikenali sedini mungkin.
Dicky mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan selama kabut asap berlangsung. Mengurangi paparan, melindungi kelompok rentan, dan segera mencari pertolongan medis ketika muncul tanda bahaya menjadi langkah penting untuk meminimalkan dampak kesehatan akibat karhutla.
